KPPI ADAKAN PEMBAKALAN CALEG PEREMPUAN

PONTIANAK, SP – Dilatarbelakangi oleh keterpilihan perempuan di parlemen yang masih sangat kurang dan masih jauh dari target, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Kalimantan Barat mengadakan pembekalan caleg perempuan. Pembekalan tersebut dihadiri oleh berbagai caleg perempuan di Kalbar dan juga menghadirkan beberapa narasumber seperti dari karolin Margret Natasha sebagai tokoh politik perempuan, Maskendari sebagai anggota DPRD, pihak KPU Kalbar, dan Bawaslu.

Ketua DPD KPPI Kalbar, Angeline Fremalco mengatakan, pembekalan KPPI kali ini difokuskan agar para caleg perempuan di Kalbar punya kans lebih besar, dalam arti keterpilihannya meningkat. “Harapannya, dengan adanya pembekalan ini, perempuan-perempuan yang sudah menjadi caleg bisa lebih mengerti, lebih paham, dan punya dasar yang kuat untuk bisa menambah keterwakilan perempuan di parlemen,” ujarnya di Hotel Harmony In, Kamis (25/10) sore.

KPPI sendiri merupakan organisasi gabungan dari berbagai partai politik (parpol) yang bertujuan meningkatkan keterlibatan dan partisipasi kaum perempuan dalam dunia politik. Jika dilihat dari segi kultural, kata Angeline, sebagai negara yang berbudaya timur, budaya mau tidak mau memang memengaruhi perempuan yang terlibat di parpol. Akibatnya, ada sedikit keengganan untuk memasuki dunia politik dengan anggapan bahwa dunia politik diisi dan didominasi oleh kaum pria. “Belum apa-apa, sudah menolak duluan,” singkatnya.

Tapi bagi perempuan yang sudah bergabung di parpol, biasanya sangat antusias. Hanya kendalanya, waktu bekerja di dunia politik tidak seperti jam kantor pada umumnya. Apalagi bagi yang sudah berkeluarga, pada jam-jam tertentu kurang mendapat restu, baik dari keluarga maupun suami. Menurut Angeline, pemikiran-pemikiran seperti itulah yang perlu diubah. Sebab, jika perempuan ingin memberikan kontribusi yang nyata kepada sesama kaumnya, perempuan harus masuk ke dalam sistem. “Sebagai politisi perempuan, jika terpilih sebagai anggota DPR misalnya, ya kita harus memiliki keberpihakan terhadap perempuan dan anak,” imbuhnya.

Bagi perempuan-perempuan yang sudah masuk ke dunia politik, langkah selanjutnya tinggal bagaimana bekerja dengan lebih serius agar tidak sekadar menjadi pelengkap kuota. Angeline mengungkapkan, perempuan-perempuan yang sudah masuk dalam partai politik biasanya serius dan berdedikasi. Jika pun ada yang tidak terlalu maksimal dalam bekerja, mungkin itu kendala waktu. “Tapi secara keseluruhan, perempuan itu bisa. Target kita, yang sudah masuk parpol dan menjadi caleg, terpilih mewakili kaum perempuan, bisa menang dalam pemilu 2019 nanti,” pungkasnya. (lha/)

Artikel ini sudah terbit di media cetak Suara Pemred.

http://suarapemredkalbar.com/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *